BAB KETIGA: BAYANGAN DI BALIK PANGGUNG — JEJAK LAMA DI ANCOL


07 Mei 2023 19.00 WIB. Malam itu, langit di Pantai Festival Ancol telah berdiri panggung megah Om Adella. Cahaya lampu yang menari, riuh tepuk tangan penonton, dan suara khas musik Jawa Timur siap membentuk simfoni keramaian yang sempurna. Tapi di balik gegap gempita itu, hati Ethan tak sedang berpesta. Ia tengah menjalankan misi tak terlihat—melindungi seseorang yang dulu pernah mengisi relung terdalam hatinya. Itu adalah kesempatan untuk melindungi satu orang yang sangat berarti—Tasya Rosmala, mantan kekasihnya.

    Nama itu masih menggema dalam ingatannya. Seorang penyanyi dangdut muda bersuara emas yang meniti karier sejak kecil, kini akan berdiri di puncak panggung. Mereka pernah dekat—bukan dalam dekapan fisik, tapi dalam ikatan batin yang tumbuh diam-diam, tanpa pertemuan nyata. Hubungan yang dimulai dari media sosial, lalu berkembang menjadi saling percaya, saling menanti. Tapi malam itu, Ethan bukan datang untuk mengenang, melainkan untuk melindungi.

    Ia tiba tepat sebelum konser dimulai. Tanpa seragam, tanpa tanda pengenal, ia membaur dengan petugas keamanan—TNI, Polri, dan satpam yang berjaga. Ia berdiri gagah di gerbang utama, dan perlahan, tanpa kata-kata, ia mengambil alih. Siapa pun yang hendak masuk, kini harus melewati tatapan tajam Ethan. Tak seorang pun mempertanyakan siapa dia. Seolah alam pun tunduk pada kewibawaannya. Karena di dalam sana, seseorang dari BIN sudah tahu persis siapa Ethan sebenarnya.

    Mobil hitam yang membawa Tasya akhirnya tiba. Pagar hidup dibentuk, dan Ethan ada di barisan terdepan. Ketika Tasya melangkah turun, pandangannya langsung tertuju pada sosok itu—yang berdiri tenang di antara para pengawal. Ia terkejut. Gestur kecil yang tak terucap, tapi cukup untuk menggetarkan keduanya. Mereka tahu, walau tak terucap, ada rindu yang menggantung di antara mereka sejak lama.

    Namun Ethan tidak bergerak. Tak satu langkah pun ia ambil untuk mendekat. Karena malam itu, ia bukan kekasih. Ia adalah pelindung bayangan, yang siap bertarung dalam senyap demi rasa yang tak boleh tumbang.

    Ketika seorang penonton mabuk berusaha memanjat pagar, suasana sempat ricuh. Tapi sebelum aparat lain bergerak, Ethan sudah lebih dulu bertindak. Dengan tangan dingin, ia mengamankan pria itu dan menegaskan: tak ada yang boleh mengganggu malam ini. Tidak saat dia di sini untuk menjaga orang yang pernah—dan mungkin masih—ia cinta.

    Acara berjalan lancar. Tidak ada kendala besar, hanya gangguan kecil yang segera bisa diatasi. Tapi sebelum Ethan sempat menghirup tenangnya malam, ia kembali dihadapkan pada pertempuran lain—yang jauh lebih senyap dan berbahaya.

    Di sekitar masjid, usai konser, Ethan menemukan suasana ganjil. Warung-warung tutup, tapi masih ada orang duduk di emperannya. Wajah asing, sepatu mahal, celana jeans rapi, dan tatapan tajam yang disembunyikan. Saat itu pukul 01.00 dini hari. Siapa yang masih bertahan di tempat seperti ini? Hatinya menjawab: mereka bukan warga biasa.

    Keyakinannya makin kuat ketika salah satu dari mereka menulis di grup WhatsApp:

> “Banyak intel di warung.”

    Grup WA itu awalnya tampak normal—menggunakan nama dan foto teman-teman semasa SMA Ethan. Tapi semakin lama, Ethan sadar: mereka bukan teman. Mereka adalah bayangan. Para penyamar.

    Kemampuan metafisikanya aktif. Ia bisa membaca pola-pola kecil yang tak terlihat. Aura di sekitarnya berubah dingin, tekanan udara terasa berat, dan pikirannya bekerja dalam irama cepat. Ia tahu, ini jebakan. Tapi bukan untuk ditabrak.

Ini saatnya melangkah mundur.

    Pukul 03.00 dini hari, Ethan memilih untuk pergi. Ia tahu waktu dan tempat adalah senjata, dan ia belum siap menembakkan semuanya di sana. Ia harus menyerang dengan cara yang tak bisa mereka lawan.

    Pagi harinya, pukul 08.00, Ethan masuk ke grup WA itu. Satu demi satu ia bongkar kedok mereka—dengan akurat. Dengan kata-kata tenang namun menusuk, ia mengejutkan semuanya. Para agen yang mengintainya keluar satu per satu dari grup. Mereka tak bisa berkata-kata.

    Mereka sadar: Ethan bukan sekadar target. Ia adalah teka-teki yang tak bisa mereka pecahkan. Misi Ethan berakhir damai. Tanpa konfrontasi fisik, tanpa darah, hanya kecerdikan dan keberanian. Tasya mungkin tak pernah tahu semua ini. Tapi bagi Ethan, itu tak penting. Karena malam itu, ia sudah menjalankan perannya—sebagai pelindung dalam senyap.

    Dalam dirinya, metafisika dan intelijen bukan dua kutub yang bertentangan. Tapi dua sisi dari satu kekuatan—yang akan terus ia bawa dalam Operasi Elaya.

---

versi lengkap silahkan hubungi penulis untuk mendapatkan buku novel gratis :)