BAB KEEMPAT: JEJAK KODE YANG TERLUPAKAN 

    Pagi itu, Jakarta baru saja membuka matanya. Matahari belum sepenuhnya naik, namun di salah satu sudut apartemen kecil yang tersembunyi di balik deretan gedung tinggi, Alya berdiri di dekat jendela, memandangi jalan yang masih sepi. Tiba-tiba, suara ketukan pelan di pintu memecah keheningan. Ia berjalan pelan, penuh waspada, dan membuka pintu hanya sedikit.

    Di lantai, tergeletak sebuah amplop kusam. Tidak ada nama pengirim, hanya cap pos dari Yogyakarta. Jantung Alya berdegup lebih cepat. Dengan hati-hati, ia membuka amplop itu. Di dalamnya hanya ada selembar potongan kertas tua, seperti berasal dari jurnal lama yang terbakar di tepinya. Di tengahnya, tulisan tangan samar dengan tinta pudar menyapa:

> "Jika potongan ini sampai padamu, berarti waktunya telah tiba. Kode itu bukan hanya tentang perang, tapi tentang kebenaran sejarah yang terkubur. Carilah menara jam tua di Bologna. Mulai dari situ."

    Alya terdiam sejenak. Nafasnya berat. Ia tahu siapa yang menulis ini, dan ia tahu ini bukan sekadar pesan. Ini adalah panggilan—dari masa lalu, dari seseorang yang tak pernah ia duga akan muncul kembali dalam bentuk ini.

    Tanpa banyak kata, ia mendatangi Ethan yang sedang merakit prototipe sistem enkripsi lokal di ruang belakang. Ketika Alya menunjukkan potongan kertas itu, Ethan hanya menatapnya dalam-dalam. Tidak ada tanya. Hanya pengertian dalam diam. Ia tahu, saatnya telah tiba.

    Dalam waktu kurang dari dua jam, Ethan mengaktifkan kembali identitas lama mereka. Ia menyusun paspor-paspor baru, tiket penerbangan dari jalur aman, menyusupkan nama mereka ke dalam manifest seperti hantu. Dokumen-dokumen palsu yang dibuatnya tidak hanya meyakinkan, tapi nyaris tidak bisa dideteksi sistem internasional. Di dunia intelijen bawah tanah, Ethan memiliki reputasi sebagai "Pencetak Bayangan"—ahli pemalsuan dokumen tingkat dewa, satu-satunya yang dipercaya menyamarkan para agen elit yang ingin lenyap dari radar dunia.

    Namun, keahlian Ethan tak hanya di atas kertas. Di balik tenangnya sorot mata, Ethan menyimpan keahlian lain yang tak kalah penting: beladiri tingkat tinggi dan kemampuan menggunakan berbagai jenis senjata api. Ia pernah menjadi bagian dari unit operasi khusus yang kini bahkan tak diakui keberadaannya oleh negaranya sendiri. Dalam setiap gerakan, Ethan memancarkan kewaspadaan seorang penjaga—dan bagi Alya, ia adalah pelindung terbaik di sisi yang paling berbahaya sekalipun.

    Disamping itu, Ethan mulai perlahan membuka tas yang ia bawa setiap hari, di dalam tasnya terdapat  pistol Glock jenis terbaru dan pistol Beretta, masing-masing terdapat empat buah dengan amunisi berjumlah 190 butir. Ethan mulai menyusun 190 butir ke dalam masing-masing magazine  — sebagai bekal yang cukup untuk mereka berdua di medan pertempuran.

    Siang hari, Ethan dan Alya berangkat menuju bandara dengan memakai baju batik berwarna cokelat keemasan. Dengan potongan rambut yang rapi berwarna kuning adalah ciri khas Ethan sebagai agen rahasia terbaik bersama Alya berwajah cantik dengan sorot mata berwarna biru menambah daya misterius sebagai agen perempuan terbaik di negaranya.

    Dalam penerbangan menuju Italia, di ketinggian 38.000 kaki, suasana di kabin terasa tenang. Namun di kepala Ethan, perhitungan terus berlangsung. Sesuatu akan terjadi. Getaran batinnya—metafisika yang selama ini menjadi kepekaannya—berbisik bahwa mereka tidak hanya mencari potongan kode kuno. Mereka sedang memasuki permainan besar, yang melibatkan banyak mata, banyak pihak... dan banyak darah.

    Kode kuno yang tersembunyi itu konon berasal dari masa Perang Dunia II, ditulis dalam bahasa simbolik yang hanya bisa diterjemahkan oleh kombinasi keahlian linguistik dan intuisi metafisik. Di balik kode itu, tersembunyi instruksi aktivasi sebuah bom nuklir tua—bom yang jika jatuh ke tangan pihak yang salah, bisa memicu kehancuran global.

    Alya menggenggam potongan kertas itu erat. Ethan menatap ke luar jendela, langit Eropa mulai terlihat samar di cakrawala. Bologna menanti mereka, bersama semua rahasia yang terkubur di dalamnya. Dan Ethan, dengan segala kemampuan dan hatinya, siap menjaga Alya—bahkan jika dunia menolak mereka, ia akan tetap berdiri di sampingnya.

    Karena bagi Ethan, misi ini bukan sekadar menyelamatkan dunia. Ini tentang menyelamatkan satu-satunya orang yang membuat dunia layak diperjuangkan.